Alergi Makanan, Gangguan Gastrointestinal dan Kesulitan Makan

Spread the love

 

Alergi Makanan, Gangguan Gastrointestinal dan Kesulitan Makan

 Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto

Beberapa penelitian melaporkan adanya hubungan antara kesulitan makan dan gangguan gastrointestinal akibat reaksi alergi atau hipersensitivitas makanan. Data tentang prevalensi kesulitan makan pada gangguan gastrointestinal dan karakteristik klinisnya masih belum banyak, namun masalah ini adalah hal yang sering dilaporkan oleh para klinisi. Sebuah penelitian di Inggris menunjukkan bahwa manifestasi klinis gangguan gastrointestinal seperti muntah, konstipasi, pendarahan rektum, penurunan berat badan serta manifestasi ekstra-gastrointestinal seperti sakit kepala, letargia, keringat malam, dan nyeri sendi memiliki hubungan terhadap kesulitan makan pada anak dengan alergi gastrointestinal yang diinduksi oleh protein makanan atau Food Protein-Induced Gastrointestinal Allergy (FPIGA). Sebuah penelitian lain juga menyatakan sebagian besar gangguan gastrointestinal akibat alergi-makanan non-IgE-mediated ini terjadi pada awal kehidupan anak sehingga dapat menyebabkan kesulitan makan pada anak.

Masalah makan berhubungan dengan konsumsi dalam jumlah terbatas atau variasi makanan terbatas dan sering terjadi pada anak dengan penyakit gastrointestinal. Mayoritas penelitian sampai saat ini tidak menggunakan pengukuran yang valid dan dapat diandalkan untuk mendeteksi masalah makan.  menilai masalah perilaku dan keterampilan makan berbasis pada anak-anak dengan penyakit gastrointestinal dengan menggunakan ukuran makan yang dilaporkan orang tua dan mengidentifikasi faktor demografis, antropometrik, dan lingkungan yang terkait dengan perilaku makan maladaptif di populasi pediatrik ini. Orang tua dinilai menggunakan  Behavioral Pediatrics Feeding Assessment Scale (BPFAS) dan kuesioner yang dilaporkan sendiri yang menilai lingkungan waktu makan dan praktik pemberian makan orang tua. Ditemukan bahwa 18,6% sampel memiliki Total Frequency Score (TFS) (frekuensi perilaku makan bermasalah) abnormal dan 39,5% memiliki Total Problem Score (TPS) abnormal (jumlah perilaku yang dianggap bermasalah oleh orang tua). Anak-anak yang lebih kecil, dengan indeks massa tubuh yang lebih rendah, berat badan lahir yang lebih rendah, dan anak tunggal lebih mungkin untuk memiliki masalah makan. Studi menunjukkan bahwa masalah makan yang dilaporkan orang tua meningkat pada anak kecil dengan penyakit gastrointestinal dan terkait dengan aspek spesifik dari lingkungan waktu makan dan praktik pemberian makan orang tua.

Diagnosis gangguan gastrointestinal akibat alergi makanan ini seringkali terlambat ditegakkan. Hal tersebut karena tidak ada tes diagnostik non-invasif andalan yang dapat dilakukan. Diagnosis dapat ditegakkan dengan adanya riwayat gejala gangguan gastrointestinal dan tes eliminasi dan provokasi makanan. Data pada penelitian tersebut menunjukan bahwa keterlambatan dalam perawatan klinis dapat diketahui dengan melihat munculnya gejala gangguan gastrointestinal yang terjadi ketika anak-anak berusia rerata 5 bulan dan baru melakukan kunjungan pertama ke pusat spesialis gastrointestinal tersier ketika berusia rerata 5 tahun. Temuan ini sangat penting dalam hal perkembangan masalah makan karena terdapat periode kritis yang berlangsung antara usia 7 dan 18 bulan untuk pengembangan keterampilan motorik oral dan pengenalan rasa dan tekstur baru pada bayi. Mayoritas anak-anak dalam penelitian tersebut hanya mendapat penanganan yang tepat setelah usia 18 bulan yang dapat diketahui dengan perbaikan atau hilangnya gejala. Masalah pemberian makan terjadi karena gejala gangguan gastrointestinal yang berkelanjutan sehingga menyebabkan tertundanya pengenalan tekstur dan rasa makanan yang berbeda hingga berujung menjadi penolakan makanan, tersedak makanan bertekstur, dan tertundanya fungsi motorik oral. Penelitian yang dilakukan Sdravou K menunjukan terdapat hubungan antara gejala gangguan gastrointestinal akibat alergi makanan dan kesulitan makan. Berdasarkan sebuah studi yang dilakukan pada anak-anak dengan penolakan makanan dan gangguan motilitas yang mendasarinya,

Zangen dan kawan-kawan  menyatakan bahwa pengalaman buruk yang berulang seperti refluks dan muntah mungkin dapat mengubah proses sensoris visceral yang mengarah ke peningkatan sensitivitas sensoris sehingga menyebabkan pengalaman makan yang tidak menyenangkan. Pengalaman negatif ini dapat berdampak pada pembentukan jalur nyeri patologis dan memori nyeri sentral. Stimulasi serat aferen yang terus-menerus kemudian membentuk kembali respons nosiseptor perifer serta respons neuron pusat terhadap rasa nyeri sehingga meyebabkan hiperalgesia primer dan sekunder.

Konstipasi adalah gejala umum yang terkait dengan alergi dismotilitas, umumnya dilaporkan dalam anak-anak dengan Food Proteind-Induced Gastrointestinal Allergy (FPIGA).95,96 Penelitian menunjukkan bahwa rasa nyeri di usus besar dan kandung kemih disebabkan oleh suplai nosiseptor lokal yang tinggi. Sehingga dapat menyampaikan berbagai aspek sensasi gastrointestinal kompleks yang diidentifikasi sebagai nyeri viseral. Secara teori, stimulasi yang berulang pada nosiseptor dan jalur aferen viseral di usus besar pada anak-anak dengan gangguan gastrointestinal meningkatkan hipersensitivitas sensoris sentral yang kemudian dapat berdampak pada pengalaman makan. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mendukung hipotesis tersebut.

BACA  Gangguan Makan Berkurang Paska Melahirkan

Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa gangguan pertumbuhan yang dilaporkan lebih tinggi pada kelompok dengan kesulitan makan daripada kelompok lain yang normal. Hal ini didukung oleh sebuah penelitian yang dilakukan pada balita sehat di Inggris dengan hasil yang menunjukan  bahwa gangguan pertumbuhan lebih sering terjadi pada anak-anak dengan kesulitan makan. Pertumbuhan yang buruk juga tidak jarang ditemukan pada anak-anak dengan gangguan gastrointestinal akibat hipersensitivitas makanan seperti dismotilitas alergi, kepatuhan lambung yang buruk, peradangan, dan malabsorpsi terkait dengan gangguan ini dapat mengurangi asupan dan meningkatkan kebutuhan. Faktanya, hal tersebut seringkali dimasukkan sebagai faktor diagnostik ketika mempertimbangkan apakah seorang anak mungkin memiliki alergi makanan.

Sebuah studi oleh Meyer dan kawan-kawan mengungkapkan adanya 11% anak dengan alergi makanan mengalami stunting, sedangkan 10% anak yang menghindari lebih dari tiga makanan memiliki skor berat badan kurang berdasarkan usia. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui apakah gangguan pertumbuhan merupakan faktor penyebab kesulitan makan. Anak sehat yang mengalami pertumbuhan yang buruk menyebabkan pemberian makanan kompensasi yang selanjutnya dapat berdampak negatif pada kesulitan makan.

Pembahasan tentang mengapa anak-anak dengan gangguan gastrointestinal rentan mengalami kesulitan makan telah dilaporkan Levy et al. dkk Pada penelitian tersebut melaporkan terdapat lima hal yang terlibat dalam memicu perkembangan kesulitan makan, di antaranya yaitu: penyakit organik, ukuran seperti pertambahan berat badan, pemberian makan mekanistik, transisi, dan peristiwa traumatis yang memengaruhi rongga mulut. Pertama, anak-anak dengan gangguan gastrointestinal akibat hipersensitivitas makanan memiliki penyakit organik yang dapat menyebabkan pertumbuhan yang terhambat karena meningkatnya kehilangan cairan seperti yaitu diare, muntah dan kebutuhan cairan lainnya. Kedua, muntah dan ketidaknyamanan perut selama makan adalah gejala umum yang berhubungan dengan transisional makan seperti beralih dari bubur susu ke tekstur yang lebih berserat seperti nasi tim saring dan nasi tim. tersedak pada tekstur yang lebih kental. Pemicu ketiga adalah orang tua yang sering menggunakan pemberian makan mekanistik karena perubahan rasa lapar dan kenyang terkait dengan dismotilitas alergi yang terdokumentasi dengan baik.

BACA  Muntah, GER dan Alergi Makanan Pada Bayi dan Anak

Transisi dari tekstur bubur ke tekstur yang lebih kental sering tertunda selama periode kritis khususnya pada anak-anak dengan GERD (Gastroeosophageal Reflux Disease) yang berkaitan dengan pemicu keempat.  Anak-anak dengan jenis alergi makanan ini seringkali memiliki satu atau lebih episode traumatis yang berhubungan dengan rongga mulut seperti makan paksa, selang nasogastrik, intubasi, dan episode tersedak yang juga dapat menyebabkan kesulitan makan.

 

Referensi

  • LaMotte RH, Shain CN, Simone DA, Tsai EF. Neurogenic hyperalgesia: psychophysical studies of underlying mechanisms. J. Neurophysiol. 1991; 66: 190–211.
  • Baumann TK, Simone DA, Shain CN, LaMotte RH. Neurogenic hyperalgesia: the search for the primary cutaneous afferent fibers that contribute to capsaicin-induced pain and hyperalgesia. J. Neurophysiol. 1991; 66: 212–27.
  • Borrelli O, Barbara G, Di NG et al. Neuroimmune interaction and anorectal motility in children with food allergy-related chronic constipation. J. Gastroenterol. 2009; 104: 454–63.
  • Ross ES, Krebs NF, Shroyer AL, Dickinson LM, Barrett PH, Johnson SL. Early growth faltering in healthy term infants predicts longitudinal growth. Early Hum. Dev. 2009; 85: 583–8.
  • Christianson JA, Davis BM. The role of visceral afferents in disease. In: Kruger L, Light AR, eds. Translational Pain Research: From Mouse to Man. Boca Raton, FL: CRC Press, 2010; 1–24.
  • Wright CM, Parkinson KN, Drewett RF. How does maternal and child feeding behavior relate to weight gain and failure to thrive? Data from a prospective birth cohort. Pediatrics 2006; 117: 1262–9.
  • Sackeyfio A, Senthinathan A, Kandaswamy P, Barry PW, Shaw B Baker M. Diagnosis and assessment of food allergy in children and young people: summary of NICE guidance. BMJ 2011; 342: d747.
  • Meyer R, De KC, Dziubak R et al. Malnutrition in children with food allergies in the UK. Hum. Nutr. Diet. 2013. doi: 10.1111/jhn.12149 [Epub ahead of print].
  • National Institute for Clinical Excellence. Diagnosis and assessment of food allergy in children and young people in primary care and community settings. 2011. Ref Type: Report.
  • Wright CM, Parkinson KN, Shipton D, Drewett RF. How do toddler eating problems relate to their eating behavior, food preference and growth? Pediatrics 2007; 120: e1069–75.
  • Levy Y, Levy A, Zangen T et al. Diagnostic clues for identification of nonorganik vs organik causes of food refusal and poor feeding. Pediatr. Gastroenterol. Nutr. 2009; 48: 355–62.
  • Sdravou K, Emmanouilidou-Fotoulaki E, Printza A, Andreoulakis E, Beropouli S, Makris G, Fotoulaki M. Factors Associated with Feeding Problems in Young Children with Gastrointestinal Diseases. Healthcare (Basel). 2021 Jun 17;9(6):741. doi: 10.3390/healthcare9060741. PMID: 34204179; PMCID: PMC8234215.

Материалы по теме:

Tips Dan Cara Pemberian Makan Sehat Pada Anak
Tips untuk mendorong kebiasaan makan yang sehat
BACA  GANGGUAN FUNGSI SALURAN CERNA, PENYEBAB UTAMA SULIT MAKAN
Mengajari anak Anda cara makan sehat sekarang berarti mereka akan lebih mungkin untuk membuat pilihan sehat sendiri ketika ...
Mitos dan Kontroversi : Beri Makanan Bentuk Menarik Memperbaiki Nafsu makan ?
Mitos dan Kontroversi : Beri makanan yang bentuknya menarik , ada mata, telinga atau bentuk gambar yang lucu-lucu. Fakta: Bentuk makan yang lucu atau ...
Obesitas, Kegemukan dan Alergi Makanan Pada Anak
Obesitas, Kegemukan dan Alergi Makanan Banyak penelitian mengungkapkan penderita kegemukan sering mengalami alergi atau sebaliknya penderita alergi sebagian mengalami kegemukan.  Kaitan alergi dan kegemukan sampai ...
Depresi dan Kecemasan Bisa Dipengaruhi Alergi Makanan
Widodo Judarwanto Seringkali seseorang tidak merasa kalau merasa depresi. Gejalanya ditandai dengan mudah sedih, mudah menangis, sering murung, miudah marah,  sering kesepian, sering merasa ...
Mitos & Kontroversi: Bayi BB Sulit Naik Stop ASI Karena ASI Tidak Berkualitas
Mitos dan Kontroversi :  Bayi berat badan sulut naik disarankan stop susu dan ASI, karena penyebab sulit makan dianggap karena ASInya tidak berkualitas.  Sehingga beberapa dokter ...

Leave a Reply

Your email address will not be published.