Hipersensitivitas Makanan, Gangguan Gastrointestinal dan Kesulitan Makan

Spread the love

Hipersensitivitas Makanan, Gangguan Gastrointestinal dan Kesulitan Makan

Pengaruh Hipersensitivitas Makanan Terhadap Gangguan Gastrointestinal dan Kesulitan Makan

Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto

Beberapa penelitian telah menunjukan bahwa terdapat hubungan antara kesulitan makan dengan gangguan gastrointestinal akibat reaksi hipersensitivitas makanan. Meskipun data tentang prevalensi kesulitan makan pada gangguan gastrointestinal dan karakteristik klinisnya masih belum banyak, namun masalah ini adalah hal yang sering dilaporkan oleh para klinisi. Sebuah penelitian di Inggris menunjukkan bahwa manifestasi klinis gangguan gastrointestinal seperti muntah, konstipasi, pendarahan rektum, penurunan berat badan serta manifestasi ekstra-gastrointestinal seperti sakit kepala, letargia, keringat malam, dan nyeri sendi memiliki hubungan terhadap kesulitan makan pada anak dengan alergi gastrointestinal yang diinduksi oleh protein makanan atau Food Protein-Induced Gastrointestinal Allergy (FPIGA). Sebuah penelitian lain juga menyatakan sebagian besar gangguan gastrointestinal akibat alergi-makanan non-IgE-mediated ini terjadi pada awal kehidupan anak sehingga dapat menyebabkan kesulitan makan pada anak.

Diagnosis gangguan gastrointestinal akibat alergi makanan ini seringkali terlambat ditegakkan. Hal tersebut karena tidak ada tes diagnostik non-invasif andalan yang dapat dilakukan. Oleh karena itu diagnosis seringkali bergantung pada pengenalan gejala gastrointestinal dan percobaan eliminasi makanan.  Data pada penelitian tersebut menunjukan bahwa keterlambatan dalam perawatan klinis dapat diketahui dengan melihat munculnya gejala gangguan gastrointestinal yang terjadi ketika anak-anak berusia rata-rata 5 bulan dan baru melakukan kunjungan pertama ke pusat spesialis gastrointestinal tersier ketika berusia rata-rata 5 tahun. Temuan ini sangat penting dalam hal perkembangan masalah makan karena terdapat periode kritis yang berlangsung antara usia 7 dan 18 bulan untuk pengembangan keterampilan motorik oral dan pengenalan rasa dan tekstur baru pada bayi. Mayoritas anak-anak dalam penelitian tersebut hanya mendapat perawatan yang tepat setelah usia 18 bulan yang dapat diketahui dengan perbaikan atau hilangnya gejala. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa masalah pemberian makan terjadi karena gejala gangguan gastrointestinal yang berkelanjutan sehingga menyebabkan tertundanya pengenalan tekstur dan rasa makanan yang berbeda hingga berujung menjadi penolakan makanan, tersedak makanan bertekstur, dan tertundanya fungsi motorik oral.

Penelitian tersebut menunjukan bahwa terdapat hubungan antara gejala gangguan gastrointestinal akibat alergi makanan dan kesulitan makan. Berdasarkan sebuah studi yang dilakukan pada anak-anak dengan penolakan makanan dan gangguan motilitas yang mendasarinya, Zangen dan kawan-kawan menyatakan bahwa pengalaman buruk yang berulang seperti refluks dan muntah mungkin telah mengubah proses sensoris visceral yang mengarah ke peningkatan sensitivitas sensoris sehingga menyebabkan pengalaman makan yang tidak menyenangkan. Pengalaman negatif ini mungkin berdampak pada penciptaan jalur nyeri patologis dan memori nyeri sentral. Stimulasi persisten serat aferen membentuk kembali respons nosiseptor perifer serta respons neuron pusat terhadap nyeri, menghasilkan hiperalgesia primer dan sekunder.

Sembelit atau konstipasi adalah gejala umum yang terkait dengan alergi dismotilitas, umumnya dilaporkan dalam FPIGA dan terkait dengan nyeri. Di usus besar dan kandung kemih, penelitian telah menunjukkan bahwa suplai nosiseptor lokal yang tinggi memiliki kemampuan untuk menyampaikan berbagai aspek sensasi gastrointestinal kompleks yang diidentifikasi manusia sebagai nyeri viseral. Dapat dihipotesiskan bahwa stimulasi berulang pada nosiseptor dan jalur aferen viseral di usus besar pada anak-anak dengan gangguan gastrointestinal meningkatkan hipersensitivitas sensoris sentral yang kemudian dapat berdampak pada pengalaman makan. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mendukung hipotesis tersebut.

Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa pertumbuhan goyah yang dilaporkan lebih tinggi pada kelompok dengan kesulitan makan daripada mereka yang tidak. Ini bukan temuan baru, karena penelitian sebelumnya pada balita sehat di Inggris menemukan bahwa gangguan pertumbuhan lebih sering terjadi pada anak-anak dengan kesulitan makan. Pertumbuhan yang buruk juga tidak jarang ditemukan pada anak-anak dengan gangguan gastrointestinal akibat hipersensitivitas makanan seperti dismotilitas alergi, kepatuhan lambung yang buruk, peradangan, dan malabsorpsi terkait dengan gangguan ini dapat mengurangi asupan dan meningkatkan kebutuhan. Faktanya, ini sering dimasukkan sebagai faktor diagnostik ketika mempertimbangkan apakah seorang anak mungkin memiliki alergi makanan. Sebuah studi oleh Meyer et al. menemukan bahwa 11% anak dengan alergi makanan mengalami stunting, dan 10% anak yang menghindari lebih dari tiga makanan memiliki skor berat badan menurut usia < 2,32 Apakah gangguan pertumbuhan merupakan faktor penyebab kesulitan makan perlu diteliti lebih lanjut, Namun, apa yang diketahui pada anak sehat adalah bahwa pertumbuhan yang buruk menyebabkan pemberian makanan kompensasi yang selanjutnya dapat berdampak negatif pada kesulitan makan.

BACA  Mitos & Kontroversi: Anak Pilih Pilih Karena Tidak Mengenalkan makanan Yang Bervariasi

Alasan mengapa anak-anak dengan gangguan gastrointestinal rentan mengalami kesulitan makan dapat didiskusikan dengan menggunakan model Levy dan kawan-kawan

Mereka menemukan lima pemicu yang terlibat dalam perkembangan kesulitan makan: penyakit organik, ukuran seperti pertambahan berat badan, pemberian makan mekanistik, transisi, dan peristiwa traumatis yang mempengaruhi rongga mulut. Pertama, anak-anak dengan gangguan gastrointestinal akibat hipersensitivitas makanan memiliki penyakit organik yang dapat menyebabkan pertumbuhan yang terhambat karena meningkatnya kehilangan cairan seperti yaitu diare, muntah dan kebutuhan cairan lainnya. Kedua, muntah dan ketidaknyamanan perut selama makan adalah gejala umum yang berhubungan dengan transisional makan seperti beralih dari bubur susu ke tekstur yang lebih berserat seperti nasi tim saring dan nasi tim. tersedak pada tekstur yang lebih kental.  Dalam hal pemicu ketiga, orang tua sering menggunakan pemberian makan mekanistik karena perubahan rasa lapar dan kenyang terkait dengan dismotilitas alergi yang terdokumentasi dengan baik.

Transisi dari tekstur bubur ke tekstur yang lebih kental sering tertunda selama periode kritis khususnya pada anak-anak dengan GERD (Gastroeosophageal Reflux Disease), yang berkaitan dengan pemicu keempat, dan terakhir, sangat umum bagi anak-anak dengan jenis alergi makanan ini, untuk memiliki satu atau lebih episode traumatis. berhubungan dengan rongga mulut (yaitu makan paksa, selang nasogastrik, intubasi, dan episode tersedak) yang juga dapat menyebabkan kesulitan makan.

Oral Food Challenge Sebagai Alat Diagnosis Hipersensitivitas Makanan Pada Kesulitan Makan Pada Anak dengan Gangguan Gastrointestinal

Kesulitan makan pada anak memang memiliki banyak faktor yang berpengaruh di dalamnya. Terdapat banyak sekali penanganan yang dapat dilakukan mulai dari mengganti asupan makanan hingga berbagai cara pemberian makan yang tepat. Namun, semua penanganan itu hanya akan berpengaruh sedikit apabila faktor penyebab kesulitan makan tidak diatasi. Oleh karena itu, gejala gangguan gastrointestinal akibat hipersensitivitas makanan yang diduga sebagai penyebab utama masalah kesulitan makan harus diperbaiki terlebih dahulu agar tidak menyebabkan atau memperparah kondisi kesulitan makan pada anak.

Keterampilan makan dapat terganggu karena sebagian besar gangguan gastrointestinal terjadi pada anak usia dini. Kesulitan makan dapat mengakibatkan kekurangan gizi, pertumbuhan yang goyah, dan dampak yang signifikan pada kualitas hidup. Gejala spesifik yang terkait dengan setiap gangguan gastrointestinal akibat hipersensitivitas makanan yang tidak dimediasi oleh IgE dapat menyebabkan presentasi yang berbeda.

Penelitian yang dilakukan di sebuah klinik Jakarta Pusat menunjukkan bahwa setelah dilakukan penghindaran makanan tertentu pada 218 anak yang mengalami kesulitan makan dengan gejala gangguan gastrointestinal akibat hipersensitivitas makanan selama 3 minggu, terjadi perbaikan kesulitan makan sebesar 78% pada minggu pertama, 92% pada minggu ke dua dan 96% pada minggu ketiga. Gangguan gastrointestinal juga tampak membaik sekitar 84% dan 94% penderita antara minggu pertama dan ketiga. Tetapi perbaikan gangguan mengunyah dan menelan hanya bisa diperbaiki sekitar 30%.

Intervensi oral food challenge tersebut juga dapat digunakan sebagai alat bantu diagnosis hipersensitivitas makanan. Dengan menghindari beberapa makanan tertentu bila terdapat perbaikan klinis dalam 3 minggu, maka diagnosis banding yang ada dapa disingkirkan. Tanpa harus melakukan pemeriksaan yang banyak, invasif  dan mahal kita bisa menegakkan diagnosis sementara yaiitu gangguan gastrointestinal akibat hipersensitivitas makanan. Apabila tidak ada perbaikkan dalam 3 minggu, maka harus dilakukan evaluasi apakah oral food challenge sudah dilakukan secara benar. Bila caranya sudah dilakukan benar dan tidak ada perbaikkan, maka mungkin diperlukan pemeriksaan penunjang lainnya.

BACA  Dunia Sensorik Penderita Picky Eaters atau Pemilih Makanan

Referensi

  • Sladkevicius E, Nagy E, Lack G, Guest JF. Resource implications and budget impact of managing cow milk allergy in the UK. J. Med. Econ. 2010; 13: 119–28.
  • Du TG, Meyer R, Shah N et al. Identifying and managing cow’s milk protein allergy. Arch. Dis. Child. Educ. Pract. Ed. 2010; 95: 134–44.
  • Turjanmaa K, Darsow U, Niggemann B, Rance F, Vanto T, Werfel T. EAACI/GA2LEN position paper: present status of the atopy patch test. Allergy 2006; 61: 1377–84.
  • Harris G. Development of taste and food preferences in children. . Opin. Clin. Nutr. Metab. Care 2008; 11: 315–9.
  • Coulthard H, Harris G, Emmet P. Delayed introduction of lumpy foods to children during the complementary feeding period affectschild’s foo acceptance and feeding at 7 years of age. Matern. Child Nutr. 2009; 5: 75–85.
  • Northstone K, Emmett P, Nethersole F. The effect of age of introduction to lumpy solids on foods eaten and reported feeding difficulties at 6 and 15 months. J. Hum. Nutr. Diet. 2001; 14: 43–54.
  • Mukkada VA, Haas A, Greskoff Maune N et al. Feeding dysfunction in children with eosinophilic gastrointestinal diseases. Pediatrics 2011; 126: e672–7.
  • Northstone K, Emmett P. The associations between feeding difficulties and behaviours and dietary patterns at 2 years of age: the ALSPAC cohort. Matern. Child Nutr. 2013; 9: 533–42.
  • Mathisen B, Worrall L, Masel J, Wall C, Shepherd RW. Feeding problems in infants with gastro-oesophageal reflux disease: a kontrolled study. J. Paediatr. Child Health 1999; 35: 163–9.
  • Zangen T, Ciarla C, Zangen S et al. Gastrointestinal motility and sensory abnormalities may contribute to food refusal in medically fragile toddlers. Pediatr. Gastroenterol. Nutr. 2003; 37: 287–93.
  • LaMotte RH, Shain CN, Simone DA, Tsai EF. Neurogenic hyperalgesia: psychophysical studies of underlying mechanisms. Neurophysiol. 1991; 66: 190–211.
  • Baumann TK, Simone DA, Shain CN, LaMotte RH. Neurogenic hyperalgesia: the search for the primary cutaneous afferent fibers that contribute to capsaicin-induced pain and hyperalgesia. Neurophysiol. 1991; 66: 212–27.
  • Borrelli O, Barbara G, Di NG et al. Neuroimmune interaction and anorectal motility in children with food allergy-related chronic constipation. J. Gastroenterol. 2009; 104: 454–63.
  • Ross ES, Krebs NF, Shroyer AL, Dickinson LM, Barrett PH, Johnson SL. Early growth faltering in healthy term infants predicts longitudinal growth. Early Hum. Dev. 2009; 85: 583–8.
  • Christianson JA, Davis BM. The role of visceral afferents in disease. In: Kruger L, Light AR, eds. Translational Pain Research: From Mouse to Man. Boca Raton, FL: CRC Press, 2010; 1–24.
  • Wright CM, Parkinson KN, Drewett RF. How does maternal and child feeding behavior relate to weight gain and failure to thrive? Data from a prospective birth cohort. Pediatrics 2006; 117: 1262–9.
  • Sackeyfio A, Senthinathan A, Kandaswamy P, Barry PW, Shaw B Baker M. Diagnosis and assessment of food allergy in children and young people: summary of NICE guidance. BMJ 2011; 342: d747.
  • Meyer R, De KC, Dziubak R et al. Malnutrition in children with food allergies in the UK. Hum. Nutr. Diet. 2013. doi: 10.1111/jhn.12149 [Epub ahead of print].
  • National Institute for Clinical Excellence. Diagnosis and assessment of food allergy in children and young people in primary care and community settings. 2011. Ref Type: Report.
  • Wright CM, Parkinson KN, Shipton D, Drewett RF. How do toddler eating problems relate to their eating behavior, food preference and growth? Pediatrics 2007; 120: e1069–75.
  • Levy Y, Levy A, Zangen T et al. Diagnostic clues for identification of nonorganic vs organic causes of food refusal and poor feeding. Pediatr. Gastroenterol. Nutr. 2009; 48: 355–62.
  • Vieira MC, Morais MB, Spolidoro JV et al. A survey on clinical presentation and nutritional status of infants with suspected cow’s milk allergy. BMC Pediatr. 2010; 10: 1–7.
  • Isolauri E, Sutas Y, Salo MK, Isosomppi R, Kaila M. Elimination diet in cow’s milk allergy: risk for impaired growth in young children. Pediatr. 1998; 132: 1004–9.
  • Mathisen B, Worrall L, Masel J, Wall C, Shepherd RW. Feeding problems in infants with gastro-oesophageal reflux disease: a kontrolled study. Paediatr. Child Health 1999; 35: 163–9.
  • Mathisen B, Skuse D, Wolke D, Reilly S. Oral-motor dysfunction and failure to thrive among inner-city infants. Med. Child Neurol. 1989; 31: 293–302.
  • Schappi MG, Borrelli O, Knafelz D et al. Mast cell-nerve interactions in children with functional dyspepsia. Pediatr. Gastroenterol. Nutr. 2008; 47: 472–80.

Материалы по теме:

JENIS TANAMAN YANG DIGUNAKAN SEBAGAI OBAT TRADISIONAL OBAT TRADISIONAL UNTUK MENGATASI KESULITAN MAKAN
JENIS TANAMAN YANG DIGUNAKAN SEBAGAI OBAT TRADISIONAL OBAT TRADISIONAL UNTUK MENGATASI KESULITAN MAKAN
BACA  PENDEKATAN PSIKOLOGIS UNTUK ANAK SULIT MAKAN
Piper cubebae L (Kemukus) buah Parkia roxburghii G Don (kedawung) bijiParkia ...
Mitos dan Kontroversi: Anakku Berat Susah Naik Karena Tidak Bisa Diam
Mitos dan Kontroversi : Anak beratnya kurang dan kurus karena anak tidak bisa diam dan anak sangat lincah. Fakta: Pada anak dengan berat badan ...
Mitos & Kontroversi : Anak Makan Pilih Pilih karena Kesalahan Orangtua dan Pengasuh
  Mitos dan Kontroversi : Anak hingga usia 2-3 hanya mau minum susu tidak mau makan nasi, sayur atau daging. Karena kesalahan orangtua terlambat atau ...
Alergi Bawang Putih; Gejala dan Pencegahannya
Bawang putih bisa menambah rasa yang luar biasa pada makanan. Ini sering dirayakan untuk manfaat kesehatan potensial. Namun, beberapa orang alergi terhadap bawang putih. ...
Permasalahan dan Angka Kejadian Kesulitan Makan Pada Anak
Permasalahan dan Angka Kejadian Kesulitan Makan Pada Anak Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto Masalah makan diperkirakan terjadi pada hingga 25% dari anak-anak yang berkembang normal dan hingga ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *