April 19, 2021

PICKY EATERS CLINIC online

Info Kedokteran Masalah Sulit Makan dan gangguan Berat Badan Pada Bayi, Anak, Dewasa, Lansia oleh Dokter Indonesia Online

KONSULTASI KESEHATAN ANAK : Kisah Panjang Perjuangan Orang Tua Dengan Anak Sulit Makan dan Sering Sakit

12 min read
Spread the love

Seorang anak laki laki usia 4 tahun. Selama ini orangtuanya sering frustasi karena sejak usia 6 bulan anaknya sering batuk, pilek, sulit makan dan berat badan sulit naik. Saat uia 4 tahun Berat badannya hanya 12,5 kg. Padahal orangtuanya mengatakan saat bayi sangat gemuk. Anak tersebut BB sulit naik dan sulit makan sudah sejak 6 – 8 bulan. Yang lebih memusingkan orangtua anaknya mudah sekali sakit. Setiap bulan hampir 1-2 kali sering sakit. Pernah batuk 2 bulan tidak sembuh sembuh, sudah 5 kali dirawat karena demam tinggi dan tidak mau makan asama sekali. Sudah beberapa dokter anak. dokter alergi anak dan dokter gizi anak dikunjungi. Sudah beberapa kali dilakukan pemeriksaan urin, pemeriksaan darah dan pemeriksaan rontgen seringkali normal. 

Puncak keluhan terjadi saat usia 31/2 tahun, anak tersebut sudah 3 bulan batuk tidak sembuh dan pada puncaknya harus dirawat karena demam tinggi, sering muntah, nyeri perut hebat dan tidak mau makan dan minum sama sekali. Saat itu hasil lekositnya 20.000/mm3. trombosit 580.000, LED 34 .jam I. rontgen normal, anak sesak dan mengi. Setelah pulang anak dinyatakan mengidap ISK, TB Paru dan kekurangan zzat besi. 

Setelah beberapa saat pulang sembuh sebentar, seminggu berikutnya demam lagi. Setelah dikalukan second opinion ke dokter lainnya dokter menyatakan bahwa problem uatama anak adalah alergi saluran napas, dan saluran cerna. Saat terjadi alergi saluran anak mengalami infeksi berulang. Kemudian obat TB Paru dan obat ISK dihentikan karena hasi; laboratorium dan pemeriksaan rotgen dan mantoux test tidak mendukung. Saat dilakukan eliminasi provokasi alergi makanan ternyata dalam bulan bulan berikutnya anak lebih jarang sakit, makannya membaik dan dalam 2 bulan BB naik 1800 gram. 

 

 

 

DISKUSI KASUS

Pada kasus anak usia 4 tahun sering sakit , sulit makan dan BBnya sulit naik setelah dilakukan anamnesa (riawayat kesehatan sejak bayi hingga usia 4 tahun) didapatkan data

Gangguan Hiperensiitifatas organ dan sistem tubuh yang didapatkan pada penderita

  • SALURAN CERNA :
    • Usia Bayi : pada usia di bawah usia 3 bulan mudah MUNTAH dan didiagnosis GER (gastroesofageal Rfleks). sering rewel, sering minta gendong , digendong diam ditaruh menangis. Malam hari sering rewel selama ini dianggap haus atau minta minum susu
    • Sering Buang Air Besar (BAB)  3 kali/hari atau lebih
    • Kadang juga sebaliknya justru sulit BAB (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam.
    • Pada usia 3-4 tahun Sering NYERI PERUT. Kadang nyeri di daerah kantung empedu. Waspadai bila nyeri perut hebat bila divonis usus buntu harus segera second opinion ke dokter lain. Sering salah diagnosis karena gejala mirip.

Gangguan Hipersesitifitas lain yang menyertai

  • KULIT : Kulit timbul kemerahan seperti biang keringat, pipi sering brintusan atau kemerahan. bercak putih dan bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Timbul warna putih pada kulit seperti ”panu”.  Perioral dermatitis timbul bintil kemerahan atau jerawat di sekitar mulut. Dipinggir kuku kulit sering terkelupas, kulit dibawah kuku bengkak bahkan sampai terlepas (paronichia)  Sering menggosok mata, hidung, telinga, sering menarik atau memegang alat kelamin karena gatal.
  • HIDUNG, TELINGA TENGGOROKAN  : Pilek lama lebih dari 2 minggu hilang timbul, bila pilek lama sering disertai sakit telingasering bersin, hidung buntu, terutama malam dan pagi hari. MIMISAN, SINUSITIS, hidung sering gatal digosok-gosok atau hidung sering digerak-gerakkan “rabbit nose”. Kotoran telinga berlebihan, sedikit berbau. pada anak lebih besar kadang disertai gangguan  sakit telinga bila ditekan (otitis eksterna). Telinga sering berdengung atau gemuruk .
  • SALURAN NAPAS  :
    • Pada bayi Napas sering berbunyi grok grok, batuk, sesak sejak usia 5 bulan
    • Pada usia 2 tahun sering batuk Batuk lama atau lebih 2 minggu hilang timbul,
  • GIGI DAN MULUT : Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.
  • PEMBULUH DARAH Vaskulitis (pembuluh darah kecil pecah) : sering LEBAM KEBIRUAN pada tulang kering kaki atau pipi atas seperti bekas terbentur. Berdebar-debar, mudah pingsan, tekanan darah rendah.
  • OTOT DAN TULANG : sejak usia 3 tahun nyeri kaki atau kadang  tangan, sering minta dipijat terutama saat malam hari. Kadang nyeri dada. Kadang otot sekitar rahang atas dan rahang bawah kaku bila mengunyah terganggu, bila tidur gigi sering gemeretak, Otot di leher belakang dan punggung sering kaku dan nyeri
  • SALURAN KENCING : Sering minta kencing, BED WETTING (semalam  ngompol 2-3 kali)
  • MATA : Mata gatal, timbul bintil di kelopak mata (hordeolum). Kulit hitam di area bawah kelopak mata. memakai kaca mata (silindris) sejak usia 6-12 tahun.
  • FATIQUE atau KELELAHAN :  mudah lelah, sering minta gendong, Pada dewasa sering mengeluh “capek”
  • Daya tahan menurun sering sakit demam, batuk, pilek setiap bulan bahkan sebulan 2 kali. (normal sakit seharusnya 2-3 bulan sekali). Karena sering sakit berakibat Tonsilitis kronis (AMANDEL MEMBESAR), atau sinusitis atau mengalami Infeksi Telinga Waspadai dan sering minum antibiotika
  • Mudah mengalami INFEKSI SALURAN KENCING.  Kulit di sekitar kelamin sering kemerahan 
  • Mengalami  OVERDIAGNOSIS TBC  (MINUM OBAT JANGKA PANJANG PADAHAL BELUM TENTU MENDERITA TBC / ”FLEK ”)  KARENA GEJALA ALERGI MIRIP PENYAKIT TBC. BATUK LAMA BUKAN GEJALA TBC PADA ANAK BILA DIAGNOSIS TBC MERAGUKAN SEBAIKNYA ”SECOND OPINION” DENGAN DOKTER LAINNYA  
  • INFEKSI JAMUR (HIPERSENSITIF CANDIDIASIS) di lidah, mulut, selangkangan, di leher, perut atau dada, KEPUTIHAN
  • Gangguan tidur malam : malam rewel, kolik, tiba-tiba mengigau atau menjerit, tidur bolak balik dari ujung ke ujung lain tempat tidur. Lidah tampak kotor, berwarna putih serta air liur bertambah banyak atau mulut berbau
BACA  YOUTUBE TEREKOMENDASI: PERMASALAHAN SULIT MAKAN PADA ANAK

Manifestasi kesulitan makan pada penderita anak ditampilkan dengan gejala

  1. Hilangnya nafsu makan atau nafsu makan yang tidak stabil. Kadang makan mau, kadang lama atau sedikit kadang tidak mau makan sama sekali. Secara umum lebih sering anak tidak mau makan.
  2. Makan pilih pilih atau gangguan mengunyah menelan atau gangguan oral motor. Anak hanya mau makan yang cair, lembut dan tidak berserat. Anak menolak makanan yang berserat, lengket, rasa terlalu tajam dan berbau tajam. Anak lebih pilih mi dan jagung dari pada nasi, karena nasi lebih berserat  Anak lebih pilih ayam krispi daripada daging sapi empal, karena empal lebih berserak Anak lebi suka krispi seperti kerupuk, biiskuit. Anal lebih suka yang lembut seperti telor, roti, mi. Anak lebih suka ikan lele atau dori karena lembut dan tidak berbau tajam. Anak lebih suka buah jeruk, mangga, pisang, semangka karena lembut, cair dan tidak berserat.
 BERBAGAI GANGGUAN PERILAKU YANG MENYERTAI
  • SUSUNAN SARAF PUSAT : anak mudah kaget, mengalami tick atau mata berkedip sejak usia 4 tahun
  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN
    • pada bayi : Mata sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong/diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala.
    • Pada Anak lebih besar :  Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}.
  • GANGGUAN TIDUR : 
    • Pada usia bayi : malam sering terbangun sering dikira haus atau sering dikira ASI ibu kurang sehingga minum ASI berlebihan, akibatnya BB anak naik berlebihan karena terlalu banyak minum.
    • Pada usia Balita: Sulit untuk memulai tidur malam atau tidur larut malam , Tidur bolak-balik dari ujung ke ujung tempat tidur, Berbicara,tertawa,berteriak atau berjalan saat tidur, Mendadak terbangun duduk saat tidur kemudian tidur lagi, Mimpi buruk,  “beradu gigi”  atau gigi gemeretak atau bruxism
  • AGRESIF MENINGKAT
    • Pada Bayi :  sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”).
    • Pada Usia Balita : mudah memukul, menggigit, mencubit.
  • GANGGUAN KONSENTRASI: cepat bosan sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game. dipanggil beberapa kali baru menoleh
  • EMOSI TINGGI : mudah marah, sering berteriak, mengamuk, tantrum, keras kepala, negatifisme dan mudah menyangkal (deny) sangat tinggi.
  • DEPRESI DAN MUDAH CEMAS :  mudah marah, sedih berlebihan,  mudah tersinggung, sering kesepian, mudah menangis meski masalahnya ringan
  • GANGGUAN KESEIMBANGAN KOORDINASI DAN MOTORIK : Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak, duduk leter ”W”.
  • GANGGUAN SENSORIS : sensitif terhadap suara (frekuensi tinggi) , cahaya (mudah silau), perabaan telapak kaki dan tangan sensitif  (jalan jinjit, flat foot, mudah geli, mudah jijik, tidak suka memegang bulu, boneka dan bianatang berbulu). Rasa perabaan sensoris kaki sangat sensitif (bila lantai kotor sedikit atau berpasir  sering geli dan harus pakai sandal), biasanya bila berjalan tidak menapak baik sehingga sering jalan tidak sempurna (jalan jinjit, miring, kaki O atau X), sandal atau sepatu seringkali ausnya tidak rata atau tidak seimbang kiri kanan.
  • GANGGUAN ORAL MOTOR :
    • KETERLAMBATAN BICARA : TERLAMBAT BICARA baru bisa bicara setelah usia 3 tahun, , bicara terburu-buru, cadel, kadang sedikit gagap.
    • GANGGUAN MENELAN DAN MENGUNYAH, seringkali pilih bila makan hanya suka makan krispi, kerupuk atau yang renyah (sayur hanya wortel, brokoli, kentang, bayam). Tidak bisa  makan makanan berserat (daging sapi, sayur tertentu, nasi) Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi. pada dewaqsa seringkali makan sangt cepat tanpa dikunyah
  • IMPULSIF : banyak bicara tetapi bicara tidak jelas hanya bergumam saat usia dibawah 2,5 tahun, tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain, bila bicara sangat cepat banyak dan sulit berhenti. Menangis dan tertawa berubah bergantian dengan cepat.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

  • Lekosit 20.500 mm3
  • Trombosit 580.000.
  • LED 34 jam I
  • Rontgen atau Foto polos dada: Infiltrat dan hiperaeration
  • Kultur urine negatif
  • Mantoux test negatif

PENILAIAN ATAU DIAGNOSIS SEMENTARA

  • Infeksi Saluran Napas berulang anak mudah sakit (Recurrent Infection)
  • Asma Bronkiale
  • Kesulitan Makan (Feeding Difficulties) dan Gangguan Oral Motor
  • Hipersensitifitas atau Alergi Saluran Cerna diduga penyebab utama sulit makan dan kekebalan tubuh menurun sehingga anak mudah sakit dan kontak sering sakit di rumah (ayahnya mudah mengalami infekasi flu berulang)
  • Orangtua ingin memastikan bahwa penyebab sulit makan anaknya bukan karena kebanyakan minum susu, bukan karena TB Paru, dan bukan karena ISK.
  • Trombosit dan lekosit meningkat tinggi sering terjadi pada penderita recurrent infection
BACA  Gangguan Tidur atau Insomnia Pada Anak Karena Alergi Makanan

Mencari Penyebab

  1. Mencari penyebab kekebalan tubuh anak rendah karena mudah sakit dan kesulitan makan pada anak yang terbaik seharusnya mendeteksi penyebab gangguan tersebut bukan sekedar obat dan bukan vitamin. Setelah dilakukan anamnesa atau mengetahui riwayat kesehatan dengan cermat penderita tersebut ternyata sangat mungkin disebabkan karena alergi atau hipersensitifitas saluran cerna. Kekebalan tubuh sekitar 60-70% dibentuk di saluran cerna, saat itu terjadi maka anak mudah sakit.
  2. Selain kekebalan tubuh menurun, juga terdapat resiko kontak yang sering sakit flu berulang yang dialami ayah penderita.
  3. Saat sakit infeksi berulang bila hilang timbul berdekatan setiap 1-2 minggu maka infeksi yang ke 4 atau ke 5 menjadi berat menjadi demam tinggi, batuk dan sesak lebih hebat, suara parau, lekosistosis (lekosit tinggi), trombosit tinggi (trombositosis)
  4. Gangguan fungsi pencernaan kronis atau hilang timbul jangka panjang pada anak tampaknya sebagai penyebab paling penting dalam kekebalan tubuh menurun dan kesulitan makan. Gangguan hal tersebut selama ini sering dianggap normal atau hal yang biasa sehingga sering tidak dianggap sebagai penyebab gangguan sulit makan. Reaksi simpang makanan tersebut tampaknya sebagai penyebab utama gangguan-gangguan tersebut. Hal ini bisa dilihat dengan timbulnya permasalahan kesulitan makan ini terbanyak saat usia di atas 6 bulan ketika mulai diperkenalkannya variasi makanan tambahan baru.
  5. Pada penderita tersebut diatas ternyata didapatkan gangguan fungsi pencernaan tersebut kadang tampak ringan seperti tidak ada gangguan. Tanda dan gejala yang menunjukkan adanya gangguan tersebut adalah
    • perut kembung, sering “cegukan”, sering buang angin,
    • Kadang muntah atau atau kadangkala mual seperti hendak muntah bila disuapin makan. Kadang mudah timbul muntah terutama bila menangis, berteriak, tertawa, berlari atau bila marah.
    • Sering nyeri perut seaat, bersifat hilang timbul. Sulit buang air besar (bila buang air besar ”ngeden”, tidak setiap hari buang air besar, atau sebaliknya buang air besar sering (>2 kali/perhari).
    • Kotoran tinja berwarna hitam atau hijau, berbentuk keras, bulat (seperti kotoran kambing) atau cair disertai bentuk seperti biji lombok, pernah ada riwayat berak darah.

Berbagai Tanda dan gejala tersebut di atas sering dianggap biasa karena sering terjadi pada banyak anak. Berbagai gangguan tesrebut ringan sehingga sering diabaikan. Padahal bila di amati secara cermat tanda dan gejala tersebut merupakan manifestasi adanya gangguan pencernaan, yang sangat mungkin berkaitan dengan kekebalan tubuh menurun dan kesulitan makan pada anak.

PENANGANAN 

Beberapa langkah yang dilakukan pada penatalaksanaan anak mudah sakit dan kesulitan makan pada anak yang harus dilakukan adalah :

  1. Pastikan apakah betul anak mengalami kesulitan makan
  2. Cari penyebab anak mudah sakit dan kesulitan makanan pada anak,
  3. Identifikasi adakah komplikasi yang terjadi
  4. Pemberian pengobatan terhadap penyebab
  5. Bila penyebabnya gangguan saluran cerna (seperti alergi, intoleransi atau coeliac), dilakukan eliminasi provokasi makanan untuk mencari penyebab makanan yang menganggu hipersenitifitas saluran cerna
  6. hindari makanan tertentu yang menjadi penyebab gangguan.

GANGGUAN HIPERSENSITIFITAS SALURAN CERNA PENYEBAB PENTING SULIT MAKAN DAN KEKEBALAN TUBUH MENURUN PADA ANAK

Setelah dilakukan penghindaran makanan tertentu dengan melakukan eliminasi provokasi makanan pada penderita selama 3 minggu, tampak perbaikan pada gangguan saluran cerna, diikuti perbaikkan kekebalan tubuh dan gangguan kesulitan makan membaik dan disertai kenaikkan BB.. Pada sebulan tedapat kenaikkan 1,250 kg pada bulan pertama. Anak menjadi jarang sakit. Tetapi perbaikan gangguan mengunyah dan menelan hanya bisa diperbaiki sekitar 40-60%. Mungkin gangguan ini akan membaik maksimal seiring dengan pertambahan usia.

Penanganan dalam segi neuromotorik dapat melalui pencapaian tingkat kesadaran yang optimal dengan stimulasi sistem multisensoris, stimulasi kontrol gerak oral dan refleks menelan, teknik khusus untuk posisi yang baik. Penggunaan sikat gigi listrik dan minum dengan sedotan kadang membantu memperbaiki masalah ini. Aktifitas meniup balon atau harmonika dan senam mulut dengan gerakan tertentu juga sering dianjurkan untuk gangguan ini.

Pemberian suplemen vitamin atau obat tertentu sering diberikan pada kasus kesulitan makan pada anak. Tindakan ini bukanlah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah, bila tidak disertai dengan mencari penyebabnya. Kadangkala pemberian vitamin atau obat-obatan justru menutupi penyebab gangguan tersebut, kalau penyebabnya tidak tertangani tuntas maka keluhan tersebut terus berulang. Bila penyebabnya tidak segera terdeteksi maka anak akan tergantung dengan pemberian vitamin tersebut Bila kita tidak waspada terdapat beberapa akibat dari pemberian obat-obatan dan vitamin dalam jangka waktu yang lama.

BACA  Brain Allergy: Alergi Susunan Saraf Pusat

Selain mengatasi penyebab kesulitan makan sesuai dengan penyebab, harus ditunjang dengan cara pemberian makan yang sesuai untuk anak dengan kesulitan makan pada anak. Karena anak dengan gangguan makan kebiasaan dan perilaku makannya berbeda dengan anak yang sehat lainnya. Kesulitan makan disertai gangguan fungsi saluran cerna biasanya terjadi jangka panjang, dan sebagian akan berkurang pada usia tertentu. Gangguan alergi makanan akan membaik setelah usia setelah usia 5-7 tahun. Tetapi pada kasus penyakit coeliac atau intoleransi makanan terjadi dalam waktu yang lebih lama bahkan tidak sedikit yang terjadi hingga dewasa.

Sulit makan karena kebanyakan susu pada kasus tersebut tidak terbukti karena susu tetapi diteruskan nafsu makan anak tetap membaik. Susu mungkin jadi penyebab sulit makan bila 1/2 atau 1 jam sebelum jam makan diberikan susu.

PENILAIAN  TERAKHIR

  • Kekebalan tubuh menurun dan Sulit makan pada anak dipastikan karena hipersensitifitas saluran cerna dengan cara melakukan elimnasi provokasi makanan ternyata membaik
  • Penyebab lain yang diduga selama ini seperti TB Paru dan ISK bisa disingkirkan karena hasil pemeriksaan laboratorium tidak menjang dan ternyata tanpa tindakan apapun yang berkaitan dengan hal tersebut, sulit makan pada anak membaik. Sehingga pemberian antibiotika jangka panjang untuk TB paru dan ISK dihentikan

DAFTAR PUSTAKA

  • Motala, C: New perspectives in the diagnosis of food allergy. Current Allergy and Clinical Immunology, September/October 2002, Vol 15, No. 3: 96-100
  • Opper FH, Burakoff R. Food allergy and intolerance. Gastroenterologist. 1993;1(3):211-220.
  • Carruth BR, Ziegler PJ, Gordon A, Barr SI.. Prevalence of picky eaters among infants and toddlers and their caregivers’ decisions about offering a new food. J Am Diet Assoc. 2004 Jan;104(1 Suppl 1):s57-64.
  • Chatoor I, Ganiban J, Hirsch R, Borman-Spurrell E, Mrazek DA.. Maternal characteristics and toddler temperament in infantile anorexia. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry. 2000 Jun;39(6):743-51.
  • Carruth BR, Skinner J, Houck K, Moran J 3rd, Coletta F, Ott D.. The phenomenon of “picky eater”: a behavioral marker in eating patterns of toddlers.J Am Coll Nutr. 1998 Apr;17(2):180-6.
  • Hall, Lindsey, and Cohn, Leigh Bulimia: A Guide to Recovery Carlsbad, CA: Gürze Books, 1986.A two-week recovery program and a guide for support groups.
  • Judarwanto W. Mengatasi kesulitan makan Anak, Puspaswara, publisher, 2004.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.
×

Hello!

Click one of our representatives below to chat on WhatsApp or send us an email to judarwanto@gmail.com

× Konsultasi Whatsapp Sulit Makan, Klik Di Sini